Sholawat Ibrahimiyah
Sholawat Ibrahimiyah (bahasa Arab: الصلاة الإبراهيمية) merupakan salah satu sholawat kepada Nabi ﷺ yang paling masyhur. Sholawat ini diajarkan langsung oleh Rasulullah ﷺ sebagai jawaban atas pertanyaan para sahabat mengenai tata cara yang benar dalam bersholawat kepada beliau. Sholawat ini diriwayatkan dalam banyak kitab hadis, termasuk Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim, serta dipandang oleh para ulama sebagai salah satu lafaz sholawat yang paling sempurna kepada Nabi ﷺ. Sholawat Ibrahimiyah paling sering dibaca pada duduk terakhir dalam salat setelah membaca tasyahud. Sholawat ini juga diriwayatkan dengan beberapa redaksi yang sahih. Berikut adalah tiga redaksi yang paling banyak dibaca.
Tampilkan lebih sedikitBahasa Arab, Latin dan Terjemahan
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ❁ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ❁ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ ❁ اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ❁ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ❁ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ ❁
Allâhumma shalli ‘alâ Muḫammadin wa ‘alâ âli Muḫammadin, kamâ shallaita ‘alâ Ibrâhîma wa ‘alâ âli Ibrâhîma, innaka ḫamîdun majîd, Allâhumma bârik ‘alâ Muḫammadin wa ‘alâ âli Muḫammadin, kamâ bârakta ‘alâ Ibrâhîma wa ‘alâ âli Ibrâhîma, innaka ḫamîdun majîd.
Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad ﷺ dan kepada keluarga Nabi Muhammad ﷺ sebagaimana Engkau telah melimpahkan rahmat kepada Nabi Ibrahim dan kepada keluarga Nabi Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, limpahkanlah keberkahan kepada Nabi Muhammad ﷺ dan kepada keluarga Nabi Muhammad ﷺ sebagaimana Engkau telah melimpahkan keberkahan kepada Nabi Ibrahim dan kepada keluarga Nabi Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.
| Referensi | Muslim (406) |
| MP3 | Unduh |
Versi 2
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ❁ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ❁ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ❁ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ ❁ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ ❁
Allâhumma shalli ‘alâ Muḫammadin wa ‘alâ âli Muḫammadin, kamâ shallaita ‘alâ Ibrâhîma wa ‘alâ âli Ibrâhîma, wa bârik ‘alâ Muḫammadin wa ‘alâ âli Muḫammadin, kamâ bârakta ‘alâ Ibrâhîma wa ‘alâ âli Ibrâhîma fil-‘âlamîna, innaka ḫamîdun majîd.
Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad ﷺ dan kepada keluarga Nabi Muhammad ﷺ sebagaimana Engkau telah melimpahkan rahmat kepada Nabi Ibrahim dan kepada keluarga Nabi Ibrahim. Limpahkanlah pula keberkahan kepada Nabi Muhammad ﷺ dan kepada keluarga Nabi Muhammad ﷺ sebagaimana Engkau telah melimpahkan keberkahan kepada Nabi Ibrahim dan kepada keluarga Nabi Ibrahim di seluruh alam. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.
| Referensi | Muslim (405) |
Versi 3
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ ❁ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ❁ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ ❁ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ ❁ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ ❁
Allâhumma shalli ‘alâ Muḫammadin ‘abdika wa rasûlikan-nabiyyil-ummiyyi, wa ‘alâ âli Muḫammadin wa azwâjihi wa dzurriyyatihi, kamâ shallaita ‘alâ Ibrâhîma wa ‘alâ âli Ibrâhîma, wa bârik ‘alâ Muḫammadinin-nabiyyil-ummiyyi, wa ‘alâ âli Muḫammadin wa azwâjihi wa dzurriyyatihi, kamâ bârakta ‘alâ Ibrâhîma wa ‘alâ âli Ibrâhîma fil-‘âlamîna, innaka ḫamîdun majîd.
Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad ﷺ, hamba-Mu, utusan-Mu, dan nabi yang ummi, serta kepada keluarga beliau, istri-istri beliau, dan keturunan beliau, sebagaimana Engkau telah melimpahkan rahmat kepada Nabi Ibrahim dan kepada keluarga Nabi Ibrahim. Limpahkanlah pula keberkahan kepada Nabi Muhammad ﷺ, nabi yang ummi, beserta keluarga beliau, istri-istri beliau, dan keturunan beliau, sebagaimana Engkau telah melimpahkan keberkahan kepada Nabi Ibrahim dan kepada keluarga Nabi Ibrahim di seluruh alam. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.
Video

Tentang Sholawat Ibrahimiyah
Sholawat Ibrahimiyah adalah sholawat kepada Nabi ﷺ yang umumnya dibaca pada duduk terakhir dalam setiap salat. Sholawat ini diajarkan langsung oleh Rasulullah ﷺ dan dipandang oleh para ulama sebagai lafaz sholawat yang paling sempurna dan paling utama untuk dibaca kepada beliau.
Salah satu keistimewaan sholawat ini adalah penyebutan Nabi Ibrahim عليه السلام bersama Nabi Muhammad ﷺ. Hal ini mendorong banyak ulama untuk menjelaskan hikmah di balik penyebutan Nabi Ibrahim عليه السلام dalam sholawat ini dengan merujuk kepada Al-Qur’an, Sunnah, serta penjelasan para ulama klasik.
Mengapa Nabi Ibrahim عليه السلام Disebutkan dalam Sholawat Ini?
Para ulama telah mengemukakan berbagai penjelasan mengenai mengapa Nabi Ibrahim عليه السلام disebutkan secara khusus dalam Sholawat Ibrahimiyah.
Sebagai Balasan Ilahi atas Salam Beliau kepada Umat Nabi ﷺ
Salah satu hikmah penyebutan khusus Nabi Ibrahim عليه السلام dalam sholawat ini adalah sebagai balasan dari Allah atas salam dan doa yang beliau sampaikan kepada umat Nabi Muhammad ﷺ pada peristiwa Isra dan Mi’raj.
Hal ini dijelaskan dalam hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud رضي الله عنه, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
“Aku bertemu dengan Ibrahim pada malam Isra’ Mi’raj. Beliau berkata kepadaku: ‘Wahai Muhammad, sampaikan salamku kepada umatmu, dan beritahukan kepada mereka bahwa surga memiliki tanah yang subur, air yang jernih, serta hamparan yang luas. Tanaman-tanamannya ditanam dengan mengucapkan: Subhanallah, Alhamdulillah, La ilaha illallah, dan Allahu Akbar.'”
[Diriwayatkan dalam Sunan at-Tirmidzi]
Selain itu, Imam ath-Tabarani meriwayatkan versi lain dari hadis ini yang memuat tambahan lafaz:
“Dan juga: La hawla wa la quwwata illa billah.”
Karena Nabi Ibrahim عليه السلام menyampaikan salam dan mendoakan umat Nabi Muhammad ﷺ, sebagian ulama berpendapat bahwa Allah memuliakan beliau dengan menyandingkan namanya bersama nama Nabi Muhammad ﷺ dalam sholawat ini. Oleh sebab itu, setiap kali kaum Muslimin bershalawat kepada Nabi ﷺ dalam salat mereka, mereka juga bershalawat kepada Nabi Ibrahim عليه السلام.
Menurut penjelasan ini, Nabi Ibrahim عليه السلام telah mendoakan umat Nabi Muhammad ﷺ, dan sebagai balasannya Allah menetapkan agar umat Nabi Muhammad ﷺ senantiasa mendoakan Nabi Ibrahim عليه السلام dalam setiap salat hingga Hari Kiamat.
Doa Nabi Ibrahim عليه السلام untuk Nabi Muhammad ﷺ
Hikmah lain mengapa Nabi Ibrahim عليه السلام disebutkan dalam Sholawat Ibrahimiyah adalah karena beliau memohon kepada Allah agar mengutus Nabi Muhammad ﷺ dan umat beliau. Allah mengabadikan doa tersebut dalam Al-Qur’an:
“Ya Tuhan kami, utuslah kepada mereka seorang rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, mengajarkan Kitab dan Hikmah kepada mereka, dan menyucikan mereka. Sungguh, Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”
[Surah al-Baqarah, 2:129]
Doa ini dikabulkan ketika Allah mengutus Nabi Muhammad ﷺ sebagai Rasul terakhir. Oleh karena itu, Nabi ﷺ bersabda:
“Aku adalah jawaban atas doa ayahku, Ibrahim.”
[Diriwayatkan dalam Musnad Ahmad dan Sunan al-Bayhaqi]
Karena Nabi Ibrahim عليه السلام telah mendoakan Nabi Muhammad ﷺ dan umat beliau, maka sudah sepantasnya umat Nabi Muhammad ﷺ membalasnya dengan senantiasa menyebut beliau dalam doa dan sholawat mereka.
Nabi Ibrahim عليه السلام Menamai Kita “Muslim”
Hikmah lain mengapa Nabi Ibrahim عليه السلام disebutkan secara khusus dalam Sholawat Ibrahimiyah adalah karena beliaulah yang menamai kita sebagai Muslim. Hal ini ditegaskan oleh Allah dalam Al-Qur’an:
“Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang Muslim sejak dahulu.”
[Surah al-Hajj, 22:78]
Penyebutan ini berkaitan dengan doa Nabi Ibrahim عليه السلام yang disebutkan dalam ayat lain:
“Ya Tuhan kami, jadikanlah kami orang yang berserah diri kepada-Mu dan jadikanlah di antara anak cucu kami umat yang berserah diri kepada-Mu.”
[Surah al-Baqarah, 2:128]
Karena bangsa Arab, termasuk nasab Nabi Muhammad ﷺ, merupakan keturunan Nabi Ibrahim عليه السلام melalui putranya, Nabi Ismail عليه السلام, maka terdapat hubungan yang sangat erat antara kedua nabi tersebut. Nabi Ibrahim عليه السلام berdoa agar lahir suatu umat yang berserah diri kepada Allah, dan Allah mengabulkan doa itu melalui umat Nabi Muhammad ﷺ. Oleh sebab itu, beliau dimuliakan dengan penyebutan namanya secara khusus dalam Sholawat Ibrahimiyah.
Al-Qur’an juga menyebut Nabi Ibrahim عليه السلام sebagai “bapakmu Ibrahim”, yang menunjukkan kedudukan beliau sebagai bapak rohani umat Islam:
“(Ikutilah) agama nenek moyangmu Ibrahim.”
[Surah al-Hajj, 22:78]
Dengan demikian, penyebutan Nabi Ibrahim عليه السلام dalam Sholawat Ibrahimiyah merupakan bentuk penghormatan dari Allah, baik sebagai balasan atas doa dan penamaan beliau terhadap umat Islam, maupun sebagai penghormatan atas kedudukannya sebagai bapak tauhid dan leluhur Nabi Muhammad ﷺ.
Kedudukan Istimewa Nabi Ibrahim عليه السلام sebagai Khalilullah (Kekasih Allah)
Hikmah lain mengapa Nabi Ibrahim عليه السلام disebutkan secara khusus dalam Sholawat Ibrahimiyah adalah karena kedudukan beliau sebagai Al-Khalil (Khalilullah), yaitu kekasih Allah. Allah berfirman secara tegas dalam Al-Qur’an:
“Dan Allah telah menjadikan Ibrahim sebagai kekasih-Nya.”
[Surah an-Nisa, 4:125]
Kemuliaan ini tidak dimiliki oleh seorang pun selain junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ. Allah menjadikan beliau bukan hanya sebagai Khalil (Kekasih Allah), tetapi juga sebagai Habib (Yang Dicintai Allah). Jika Nabi Ibrahim عليه السلام dianugerahi kedudukan sebagai Khalilullah, maka Nabi Muhammad ﷺ dianugerahi kedudukan sebagai Khalilullah sekaligus Habibullah, yaitu derajat cinta Ilahi yang lebih tinggi.
Hadis-Hadis yang Menunjukkan Kedudukan Nabi Ibrahim عليه السلام sebagai Khalilullah
1. Kedudukan Khalilullah di Surga
Ibnu Majah meriwayatkan dari Abdullah bin Amr رضي الله عنه bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Allah telah menjadikanku sebagai Khalil, sebagaimana Dia telah menjadikan Ibrahim sebagai Khalil. Pada hari Kiamat, kedudukanku dan kedudukan Ibrahim di surga akan saling berhadapan, sedangkan al-‘Abbas berada di antara kami, sebagai seorang mukmin di antara dua Khalil.”
[Diriwayatkan dalam Sunan Ibnu Majah]
2. Peristiwa Isra dan Mi’raj
Dalam hadis tentang Isra dan Mi’raj disebutkan bahwa:
Allah berfirman kepada Nabi ﷺ: “Wahai Muhammad!” Beliau menjawab: “Aku memenuhi panggilan-Mu, wahai Tuhanku.” Allah berfirman: “Mintalah.” Nabi ﷺ berkata: “Sesungguhnya Engkau telah menjadikan Ibrahim sebagai Khalil.”
[Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dan Abu Ya’la]
Dalam riwayat lain yang dibawakan oleh Abu Ya’la, Allah berfirman:
“Sesungguhnya Aku telah menjadikan Ibrahim sebagai Khalil.”
Sedangkan dalam riwayat al-Baihaqi, Allah berfirman kepada Nabi ﷺ:
“Sesungguhnya Aku telah menjadikanmu sebagai Habib.”
Hal ini menunjukkan bahwa Nabi Ibrahim عليه السلام menyandang gelar Khalilullah, sedangkan Nabi Muhammad ﷺ dianugerahi gelar Habibullah, yaitu kedudukan yang lebih tinggi daripada sekadar persahabatan yang paling dekat.
3. Hadis Syafaat
Dalam hadis syafaat yang diriwayatkan oleh Sahih Muslim, Abu Hurairah dan Abu Hudzaifah رضي الله عنهما meriwayatkan bahwa:
“Pada Hari Kiamat, ketika manusia mendatangi Ibrahim عليه السلام untuk memohon syafaat, beliau akan berkata dengan penuh kerendahan hati: ‘Aku bukanlah orang yang berhak untuk itu. Dahulu, dahulu sekali, aku hanyalah seorang Khalil.'”
[Diriwayatkan dalam Sahih Muslim]
Imam al-Qastalani menjelaskan bahwa pengulangan ungkapan “dahulu, dahulu sekali” merupakan isyarat tidak langsung kepada Nabi Muhammad ﷺ yang memperoleh kedudukan yang jauh lebih tinggi, yaitu kemuliaan melihat Allah serta mendengar firman-Nya secara langsung tanpa perantara.
Nabi Ibrahim عليه السلام adalah Nabi yang Paling Utama setelah Nabi Muhammad ﷺ
Hikmah lain mengapa Nabi Ibrahim عليه السلام disebutkan secara khusus dalam Sholawat Ibrahimiyah adalah karena beliau memiliki kedudukan yang paling tinggi di antara seluruh nabi setelah Nabi Muhammad ﷺ. Kedudukan beliau sebagai seorang imam, teladan bagi umat manusia, dan Khalilullah menjadikan beliau memiliki keutamaan yang tidak dimiliki oleh nabi-nabi lainnya.
Nabi Ibrahim عليه السلام bukan hanya bapak berbagai umat, tetapi juga bapak para nabi, imam dalam tauhid, dan pemimpin orang-orang yang bertauhid. Allah menjadikan beliau sebagai Khalil (Kekasih-Nya) serta menganugerahkan kenabian dan kitab-kitab suci kepada keturunannya. Beliau dikenal sebagai Khalil ar-Rahman, pemuka para nabi, dan pemimpin orang-orang yang berpegang teguh kepada agama yang benar.
Allah menganugerahkan kepada beliau beberapa gelar mulia dalam Al-Qur’an:
- Pemimpin Manusia – “Sesungguhnya Aku akan menjadikan engkau sebagai pemimpin bagi seluruh manusia.” (Surah al-Baqarah, 2:124).
- Satu Umat dalam Dirinya – “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan.” (Surah an-Nahl, 16:120). Maksudnya, beliau merupakan teladan dalam segala kebaikan dan pengajar kebajikan.
- Tunduk dan Taat (Qanit) – “(Beliau) patuh kepada Allah.” (Surah an-Nahl, 16:120). Sifat qanit menunjukkan kepatuhan yang sempurna kepada seluruh perintah Allah.
- Hanif (Lurus dalam Tauhid) – “(Beliau) hanif.” (Surah an-Nahl, 16:120). Yakni, beliau sepenuhnya berpegang teguh kepada tauhid yang murni dan tidak pernah menyekutukan Allah.
Karena itu, Nabi Ibrahim عليه السلام dikenal sebagai bapak ketiga umat manusia setelah Nabi Adam dan Nabi Nuh عليهما السلام, serta imam bagi orang-orang yang bertauhid. Ahlul Kitab pun sangat memuliakan beliau, dan beliau dihormati oleh berbagai agama besar di dunia. Nabi Muhammad ﷺ, manusia terbaik dari keturunan Nabi Adam عليه السلام dan keturunan terbaik Nabi Ibrahim عليه السلام, sangat memuliakan beliau. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Aku melihat Ibrahim, dan orang yang paling mirip dengannya adalah sahabat kalian ini (yakni beliau sendiri).”
[Diriwayatkan dalam Sahih Muslim]
Kesimpulan
Sebagai kesimpulan, Nabi Ibrahim عليه السلام disebutkan dalam Sholawat Ibrahimiyah karena:
- Beliau adalah nabi yang paling utama setelah Nabi Muhammad ﷺ dan memiliki kedudukan sebagai Khalilullah (Kekasih Allah).
- Allah menganugerahkan kepada beliau berbagai gelar mulia, seperti pemimpin manusia, satu umat dalam dirinya, dan orang yang senantiasa taat kepada Allah.
- Beliau memiliki peranan yang sangat besar dalam menegakkan tauhid dengan membantah penyembahan berhala dan menegakkan agama yang murni.
- Beliau menunjukkan pengabdian yang sempurna kepada Allah melalui berbagai ujian yang berat – hatinya hanya untuk Allah, putranya siap dikorbankan, dan tubuhnya diuji dengan api.
- Beliau membangun Ka’bah dan menetapkan syariat haji sehingga nama beliau senantiasa dikenang dalam ibadah umat Islam hingga Hari Kiamat.
- Beliau berdoa agar Allah mengutus Nabi Muhammad ﷺ, dan Allah mengabulkan doa tersebut dengan mengutus Rasul terakhir ﷺ.
- Umat Islam merupakan keturunan beliau secara spiritual.
- Allah memuliakan Nabi Ibrahim عليه السلام dengan menyandingkan nama beliau bersama Nabi Muhammad ﷺ dalam Sholawat Ibrahimiyah sebagai bentuk penghormatan dan balasan Ilahi.
Sholawat Ibrahimiyah dalam Hadis
Sholawat Ibrahimiyah diriwayatkan dalam beberapa hadis sahih. Hadis-hadis ini menjelaskan bagaimana para sahabat Nabi Muhammad ﷺ bertanya kepada beliau tentang tata cara yang benar dalam bersholawat kepada beliau. Sebagai jawabannya, Rasulullah ﷺ mengajarkan sholawat ini kepada mereka.
Abdur Rahman bin Abi Laila رضي الله عنه meriwayatkan:
Ka’ab bin Ujrah رضي الله عنه menemuiku lalu berkata, “Maukah aku memberimu sebuah hadiah yang aku dengar dari Nabi ﷺ?” Aku menjawab, “Tentu, berikanlah kepadaku.” Ia berkata, “Kami bertanya kepada Rasulullah ﷺ, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana cara kami bersholawat kepada engkau, wahai Ahlul Bait? Allah telah mengajarkan kepada kami cara mengucapkan salam (dalam salat).’ Beliau bersabda, ‘Ucapkanlah: Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan rahmat kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, limpahkanlah keberkahan kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan keberkahan kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.'”
[Diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari]
Abu Mas’ud al-Anshari رضي الله عنه meriwayatkan:
Rasulullah ﷺ datang kepada kami ketika kami sedang berada di majelis Sa’ad bin Ubadah. Lalu Basyir bin Sa’ad berkata, “Wahai Rasulullah, Allah telah memerintahkan kami untuk bersholawat kepadamu. Maka bagaimana cara kami bersholawat kepadamu?” Rasulullah ﷺ terdiam sejenak hingga kami berharap seandainya ia tidak menanyakan hal itu. Kemudian beliau bersabda, ‘Ucapkanlah: Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan rahmat kepada keluarga Ibrahim. Limpahkanlah keberkahan kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan keberkahan kepada keluarga Ibrahim di seluruh alam. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Adapun salam, maka kalian telah mengetahui cara mengucapkannya.'”
[Diriwayatkan dalam Sunan an-Nasa’i]
Penambahan Lafaz “Sayyidina”
Riwayat-riwayat sahih tentang Sholawat Ibrahimiyah tidak memuat gelar “Sayyid” sebelum nama Nabi Muhammad ﷺ. Namun demikian, banyak ulama generasi setelahnya menganjurkan penambahan lafaz “Sayyidina” sebagai bentuk penghormatan dan adab kepada Rasulullah ﷺ. Mereka menjelaskan bahwa penambahan tersebut tidak bertentangan dengan redaksi hadis.
Imam Syamsuddin ar-Ramli asy-Syafi’i (w. 1004 H/1595 M) menulis dalam syarahnya atas al-Minhaj:
“Lebih utama menyebut gelar ‘Sayyid’, karena dengan demikian seseorang menggabungkan lafaz yang diajarkan dengan pengakuan terhadap kemuliaan yang memang menjadi hak beliau. Hal itu termasuk adab yang baik, sehingga menyebutkannya lebih utama daripada meninggalkannya.”
Beliau juga menegaskan bahwa riwayat:
“Janganlah kalian memanggilku dengan sebutan Sayyid dalam salat kalian.”
tidak memiliki dasar yang sahih.
Demikian pula Imam Ahmad bin Hajar al-Haitami (w. 974 H/1567 M) menulis dalam al-Jawhar al-Munazzam:
“Tidak ada masalah mengucapkan ‘Sayyidina Muhammad’. Bahkan hal itu merupakan bentuk adab dan penghormatan kepada Nabi ﷺ, meskipun diucapkan dalam salat fardu.”
Karena itu, kedua bentuk tersebut sama-sama dijumpai dalam praktik para ulama. Sebagian berpegang pada lafaz yang diriwayatkan secara persis dalam hadis, sementara yang lain menambahkan lafaz “Sayyidina” sebagai ungkapan cinta, penghormatan, dan adab kepada Rasulullah ﷺ.
Keutamaan Sholawat Ibrahimiyah
Para ulama sejak dahulu memandang Sholawat Ibrahimiyah sebagai lafaz sholawat yang paling sempurna (akmal) untuk bersholawat kepada Nabi ﷺ. Berbeda dengan banyak susunan sholawat yang muncul pada masa-masa setelahnya, sholawat ini diajarkan langsung oleh Rasulullah ﷺ ketika para sahabat bertanya kepada beliau tentang tata cara bersholawat kepada beliau.
Sholawat ini diriwayatkan melalui banyak jalur yang sahih oleh Imam Malik dalam al-Muwatta’, Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dalam kitab Sahih mereka, serta oleh Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, dan para ahli hadis lainnya. Syekh al-‘Adawi menyebutkan dalam syarahnya atas Dala’il al-Khayrat bahwa al-Hafiz al-‘Iraqi dan al-Hafiz as-Sakhawi sama-sama menyatakan bahwa hadis tentang sholawat ini termasuk muttafaq ‘alaih, yaitu diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim.
Meskipun terdapat beberapa riwayat sahih dengan redaksi yang sedikit berbeda, semuanya mengandung makna yang sama dan semuanya sah untuk diamalkan.
Imam besar Syihabuddin al-Qastalani (w. 923 H/1517 M) menulis dalam al-Mawahib al-Ladunniyyah:
“Para ulama memandang bahwa ini adalah bentuk sholawat yang paling utama kepada Nabi ﷺ, karena beliau sendiri mengajarkan lafaz ini kepada para sahabat ketika mereka bertanya tentang cara bersholawat kepada beliau. Oleh karena itu, inilah lafaz yang paling utama untuk dibaca.”
Ulama besar Mazhab Maliki, Syekh Ahmad as-Sawi (w. 1241 H/1825 M), juga menukil sebuah riwayat yang dinisbatkan kepada Imam al-Bukhari, di mana Nabi ﷺ bersabda:
“Barang siapa membaca sholawat ini, maka sholawat tersebut akan menjadi saksi baginya pada Hari Kiamat, dan aku akan memberikan syafaat kepadanya.”
Syekh as-Sawi menjelaskan bahwa hadis ini berstatus hasan, dan seluruh perawinya termasuk orang-orang yang hadisnya terdapat dalam Sahih al-Bukhari.
Sebagian ulama pada masa-masa berikutnya juga menyebutkan bahwa siapa saja yang membaca Sholawat Ibrahimiyah sebanyak 1.000 kali, maka dengan izin Allah ia dapat memperoleh kemuliaan melihat Nabi ﷺ di dalam mimpi.
Keutamaan yang Diriwayatkan
Menurut keterangan yang dinukil dalam literatur Islam tradisional, pembacaan Sholawat Ibrahimiyah dikaitkan dengan keutamaan-keutamaan berikut:
- Dipandang sebagai bentuk sholawat yang paling sempurna dan utama kepada Nabi Muhammad ﷺ.
- Diajarkan langsung oleh Nabi ﷺ kepada para Sahabat ketika mereka bertanya tentang cara bersholawat kepada beliau.
- Diriwayatkan melalui banyak riwayat sahih dan tercantum dalam kitab-kitab hadis utama.
- Diriwayatkan bahwa sholawat ini akan memberikan kesaksian bagi orang yang membacanya pada Hari Kiamat dan bahwa Nabi ﷺ akan memberikan syafaat kepadanya.
- Sebagian ulama belakangan menyebutkan bahwa memperbanyak pembacaannya dapat menjadi sebab untuk melihat Nabi ﷺ dalam mimpi.
Bacaan yang Dianjurkan
Para ulama dan pembimbing ruhani telah menganjurkan pembacaan Sholawat Ibrahimiyah dalam keadaan dan untuk tujuan berikut:
- Sebagai bagian dari shalat: Dibaca pada duduk terakhir setelah tasyahud.
- Untuk memperoleh syafaat Nabi Muhammad ﷺ pada Hari Kiamat: Dibaca secara istiqamah.
- Untuk melihat Nabi Muhammad ﷺ dalam mimpi: Sebagian ulama belakangan menganjurkan membacanya sebanyak 1.000 kali.