Ratib al-Haddad
Ratib al-Haddad (bahasa Arab: راتب الحداد) adalah kumpulan ayat-ayat Al-Qur’an dan doa-doa yang bersumber dari Nabi ﷺ, yang dihimpun oleh Imam Abdallah bin Alawi al-Haddad (1044–1132 H/1634–1720 M), seorang ulama besar, arif billah, dan mujaddid abad ke-12 Hijriah. Ratib ini dibaca secara luas di berbagai penjuru dunia Islam untuk memohon perlindungan, keberkahan, dan peningkatan rohani. Banyak ulama dan orang-orang saleh telah menyaksikan manfaatnya dalam menguatkan iman, menolak bahaya, dan melapangkan rezeki.
Tampilkan lebih sedikitBahasa Arab, Latin dan Terjemahan
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَـٰلَمِينَ ❁ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ ❁ مَـٰلِكِ يَوْمِ ٱلدِّينِ ❁ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ❁ ٱهْدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلْمُسْتَقِيمَ ❁ صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ ٱلْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ ❁﴾
قُلْ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ ❁ ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ ❁ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ❁ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ ❁﴾ (٣)
Qul huwallâhu aḫad, Allâhush-shamad, lam yalid wa lam yûlad, wa lam yakul-lahu kufuwan aḫad. (3x)
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, serta tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.” (3x) (112:1-4)
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلْفَلَقِ ❁ مِن شَرِّ مَا خَلَقَ ❁ وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ ❁ وَمِن شَرِّ ٱلنَّفَّـٰثَـٰتِ فِى ٱلْعُقَدِ ❁ وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ ❁﴾
Qul a‘ûdzu bi Rabbil-falaq, min syarri mâ khalaq, wa min syarri ghâsiqin idzâ waqab, wa min syarrin-naffâtsâti fil-‘uqad, wa min syarri ḫâsidin idzâ ḫasad.
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku berlindung kepada Tuhan yang (menjaga) fajar (subuh), dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan, dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dari kejahatan perempuan-perempuan (penyihir) yang meniup pada buhul-buhul (talinya), dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.” (113:1–5)
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ ❁ مَلِكِ ٱلنَّاسِ ❁ إِلَـٰهِ ٱلنَّاسِ ❁ مِن شَرِّ ٱلْوَسْوَاسِ ٱلْخَنَّاسِ ❁ ٱلَّذِى يُوَسْوِسُ فِى صُدُورِ ٱلنَّاسِ ❁ مِنَ ٱلْجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ ❁﴾
Qul a‘ûdzu bi Rabbin-nâs, Malikin-nâs, Ilâhin-nâs, min syarril-waswâsil-khannâs, alladzî yuwaswisu fî shudûrin-nâs, minal-jinnati wan-nâs.
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku berlindung kepada Tuhan manusia, raja manusia, sembahan manusia, dari kejahatan (setan) pembisik yang bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.” (114:1–6)
(Pembaca hendaknya memuji Allah dan berdoa di sini untuk apa pun yang dikehendaki.)
Video

Tentang Ratib al-Haddad
Ratib al-Haddad terdiri dari ayat-ayat pilihan dari Al-Qur’an yang dipadukan dengan doa-doa dan zikir yang bersumber dari Nabi ﷺ. Ratib ini dikenal memiliki banyak keutamaan dan manfaat yang diriwayatkan, mencakup urusan dunia dan agama, lahir maupun batin, sebagaimana dijelaskan di bawah ini. Secara tradisional, Ratib ini dibaca sekali pada pagi hari dan sekali pada petang hari, meskipun membacanya sekali pada petang hari saja juga dianggap mencukupi.
Tidak diperlukan ijazah (izin) khusus untuk membaca Ratib ini. Imam al-Haddad tidak menyusun Ratib ini khusus untuk kelompok tertentu atau lingkaran murid-muridnya, melainkan untuk kaum Muslimin secara umum, dengan mengambil ayat-ayat, doa-doa, dan zikirnya dari Al-Qur’an dan Sunnah Nabi ﷺ.
Menurut riwayat, Ratib al-Haddad diterima oleh Imam al-Haddad melalui ilham dan disusun pada malam 27 Ramadan 1071 H, yaitu malam Lailatulqadar. Penyusunannya bermula dari permintaan salah seorang murid Imam al-Haddad bernama Amir dari Bani Sa‘d, yang tinggal di sebuah desa dekat Shibam. Ia meminta sebuah wirid yang dapat menjadi sarana perlindungan bagi orang-orang yang membacanya sekaligus meneguhkan pokok-pokok akidah Ahl al-Sunnah wa al-Jama‘ah, pada masa ketika keberadaan kaum Zaidiyah di Hadramaut menimbulkan kekhawatiran akan pengaruh keagamaan mereka.
Ratib al-Haddad pertama kali diamalkan di desa tempat Amir tinggal dengan izin Imam al-Haddad. Kemudian, pada tahun 1072 H, pembacaannya mulai dilaksanakan di masjid Imam al-Haddad di al-Hawi. Di sana, Ratib ini secara rutin dibaca berjamaah setelah salat Isya. Namun, selama bulan Ramadan, Ratib dibaca sebelum Isya agar tersedia waktu yang cukup untuk melaksanakan salat Tarawih.
Imam al-Haddad menyatakan bahwa Ratib ini akan melindungi negeri tempat ia dibaca dan menjadi wasilah bagi terkabulnya permohonan kepada Allah. Ketika menunaikan ibadah haji, beliau juga menetapkan pembacaan Ratib ini di Makkah dan Madinah. Sejak saat itu, Ratib al-Haddad menjadi wirid harian, dan pembacaannya setiap malam terus menjadi tradisi yang tersebar luas.
Diriwayatkan bahwa Allah memenuhi hajat orang-orang yang membaca Ratib al-Haddad sesuai dengan niat yang mereka maksudkan dalam membacanya. Banyak riwayat telah dinukil mengenai keberkahannya, khususnya sebagai sebab datangnya kelapangan dari kesusahan dan perlindungan dari berbagai musibah.
Pertolongan rohani (madad) yang dikaitkan dengan Ratib ini secara tradisional dinisbatkan kepada doa-doa dan zikir yang bersumber dari Nabi ﷺ yang dihimpun melalui ilham. Doa dan zikir yang diterima dan disusun melalui ilham semacam ini dikatakan memiliki keberkahan (barakah) khusus yang berkaitan dengan keadaan rohani wali yang menjadi perantara penyampaiannya. Dalam syarahnya atas Hizb al-Bahr, Syekh Ahmad Zarruq menjelaskan:
Wirid-wirid para guru dari kalangan ahli kesempurnaan rohani diliputi oleh keadaan rohani mereka. Wirid-wirid itu lahir dari ilham mereka dan disertai berbagai karamah. Di dalamnya terkandung limpahan ilmu mereka, adab dalam bimbingan rohani mereka, dan pengetahuan mereka tentang jalan menuju Allah. Di dalamnya juga terdapat isyarat-isyarat mengenai hakikat rohani, pengagungan terhadap keagungan, kebesaran, dan kemuliaan Allah, kesadaran akan kerendahan diri, serta ingatan terhadap kekurangan dan dosa-dosa seseorang.
Oleh karena itu, banyak manfaat telah diriwayatkan mengenai pembacaan wirid dan doa yang dihimpun oleh para ahli makrifat dan wali Allah. Kedudukan rohani Imam al-Haddad yang luhur tampak bahkan dari kehadiran beliau, yang dikatakan menimbulkan rasa takzim dan segan karena kekuatan rohani yang terpancar darinya. Beliau sendiri berkata, “Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahaagung menyelimuti kami dengan kewibawaan yang menimbulkan rasa segan, meskipun pada hakikatnya kami adalah orang-orang yang memiliki keindahan.”
Sayyid Ahmad bin Hashim al-Habashi juga berkata tentang beliau, “Aku bersaksi bahwa Sayyidi Abdallah adalah sosok rohani yang tidak lagi tampak padanya jejak sifat kemanusiaan.”
Imam al-Haddad pernah berkata:
Seandainya seluruh manusia pada zaman ini, tua maupun muda, laki-laki maupun perempuan, datang kepada kami, niscaya mereka semua akan memperoleh manfaat dalam urusan agama dan dunia mereka, secara lahir maupun batin, dalam waktu dekat maupun jauh. Ada orang-orang yang jasadnya berada di Barat sementara ruh mereka berada di sini bersama kami, dan ada pula orang-orang yang keadaannya sebaliknya.
Pertolongan rohani (madad) Imam al-Haddad dikatakan membantu para penempuh jalan rohani dalam perjalanan mereka menuju derajat yang lebih tinggi meskipun hati mereka memiliki berbagai kelemahan, sekaligus melindungi mereka dari kekurangan dan ketidaksempurnaan diri mereka sendiri. Beliau biasa berkata, “Orang-orang yang telah kami kenal tidak akan kami biarkan terjerumus dalam kehinaan ataupun ke dalam Neraka.”
Imam al-Haddad juga berkata, “Kami mencintai dan memperhatikan setiap orang yang kami lihat bersungguh-sungguh menempuh jalan menuju Allah Ta‘ala. Aku bergembira dengan seorang penempuh jalan yang tulus terhadap dirinya sendiri, karena melalui keberkahan ketulusannya, ia membantuku dalam membimbingnya menempuh jalan tersebut. Kecintaan seorang Syekh tentu berbeda tingkatannya sesuai dengan ketulusan, kesesuaian, dan himmah seorang penempuh jalan.”
Habib Ahmad Masyhur al-Haddad, ulama besar dan pembimbing rohani terkemuka dalam tradisi Ba ‘Alawi, biasa memberikan izin khusus untuk membaca Ratib al-Haddad pada kesempatan-kesempatan tertentu serta pada masa kesulitan dan kesusahan. Beliau meriwayatkan bahwa ketika pembaca sampai pada bacaan al-Fatihah, ruh Imam al-Haddad memberikan respons, dan bahwa pertolongan rohani (madad) Imam al-Haddad hadir ketika doa setelahnya dipanjatkan sebagai wasilah yang membantu terkabulnya doa tersebut.
Manfaat yang Diriwayatkan
Habib Alawi meriwayatkan sejumlah manfaat dan keutamaan Ratib al-Haddad. Beliau menulis:
Ulama dan Qadi terkemuka, Sayyid Saqqaf bin Muhammad bin Taha al-Saqqaf Ba ‘Alawi, semoga Allah merahmatinya, berkata, “Barang siapa membaca Ratib junjungan kami al-Haddad setiap malam, maka Ratib tersebut akan mencukupinya dari seluruh wirid malam lainnya, karena Ratib ini lengkap, bermanfaat, serta telah dicoba dan terbukti.” Ulama besar dan arif billah Umar bin Zain bin Sumayt Ba ‘Alawi juga meriwayatkan bahwa Imam al-Haddad berkata, “Ratib kami bagaikan tembok besi bagi setiap negeri tempat Ratib ini dibaca.”
Syekh Abd al-Wahid bin Ali bin Subait al-Zarrafi, seorang arif billah yang terkenal, juga meriwayatkan kisah berikut:
Ketika Tuhmas, yaitu Nadir Shah, seorang penguasa asing yang telah menaklukkan banyak negeri dan bangsa, mengincar al-Awgan dan mengancam penduduknya, Sultan mereka, Sulayman, berkata, “Dengan izin Allah, engkau tidak akan mampu mengalahkan kami, meskipun engkau telah menaklukkan negeri-negeri lain, karena kami memiliki benteng yang kokoh: Ratib junjungan kami Abdallah bin Alawi al-Haddad.”
Sultan kemudian memerintahkan seluruh pasukan dan penduduk negerinya untuk membaca Ratib yang penuh berkah tersebut. Dengan keberkahan Ratib yang mulia ini, Allah tidak memberikan kekuasaan kepada Tuhmas atas negeri maupun pasukan Sultan.
Sultan Sulayman hidup pada masa Imam al-Haddad, penyusun Ratib tersebut, dan pernah menulis surat kepada beliau mengenai bahaya yang mengancam. Imam al-Haddad kemudian mengirimkan Ratib yang mulia kepadanya dan memerintahkannya untuk membacanya seraya berkata, “Ratib ini akan melindungimu dan rakyatmu darinya.”
Ulama besar dan Qadi Tarim, Alawi bin Ahmad bin Sumayt, juga meriwayatkan:
Aku mendengar bahwa suatu ketika sekelompok orang Arab ditawan oleh beberapa orang Nasrani dan dibawa menghadap raja mereka, yang kemudian memerintahkan agar mereka dihukum mati. Penerjemah yang menyertai rombongan tersebut berkata, “Orang-orang ini termasuk pengikut penyusun Ratib.” Raja kemudian berkata, “Jika demikian, bebaskan mereka dan bawalah mereka ke kota Muslim terdekat.” Mereka pun diselamatkan karena hubungan mereka dengan penyusun Ratib. Diriwayatkan pula bahwa sebagian orang Nasrani meyakini keberkahan Ratib dan kemampuannya untuk melindungi kapal-kapal mereka, meskipun mereka bukan Muslim. Dikatakan bahwa mereka menyewa seorang Muslim untuk membaca Ratib di atas kapal-kapal mereka.
Diriwayatkan pula bahwa seorang laki-laki sedang dalam perjalanan menuju kotanya ketika sekelompok orang Badui mengikutinya dengan maksud merampoknya. Ia membuat sebuah lingkaran di sekeliling dirinya lalu mulai membaca Ratib al-Haddad. Dikatakan bahwa mereka tidak dapat melihatnya, sementara ia tetap duduk di dalam lingkaran tersebut dan dapat melihat mereka.
Sayyid Ali bin Hasan pernah meriwayatkan, “Pada suatu malam aku tertidur tanpa membaca Ratib. Dalam mimpi, aku melihat seorang malaikat yang berkata kepadaku, ‘Setiap malam aku melayanimu dengan ini dan itu,’ lalu ia menyebutkan banyak keberkahan. Kemudian ia berkata, ‘Malam ini aku tidak melayanimu dengan apa pun karena engkau tidak membaca Ratib.’ Aku pun segera terbangun dan mulai membacanya.”
Di antara manfaat terbesar Ratib al-Haddad yang diriwayatkan adalah bahwa ruh Imam al-Haddad, penyusun Ratib, hadir ketika Ratib tersebut dibaca. Hal ini diriwayatkan oleh Sayyid Muhammad bin Zain bin Sumayt.
Diriwayatkan pula dari Imam al-Haddad sendiri bahwa barang siapa istiqamah membaca Ratib al-Haddad akan dianugerahi akhir kehidupan yang baik (husn al-khatimah).
Keutamaan yang Diriwayatkan
Pembacaan Ratib al-Haddad secara rutin dikaitkan dengan berbagai keutamaan dan manfaat berikut:
- Perlindungan dari bahaya, musuh, dan berbagai musibah, dengan izin Allah.
- Perlindungan bagi tempat dan masyarakat yang secara rutin membaca Ratib ini.
- Terkabulnya hajat yang dibenarkan dan permohonan kepada Allah.
- Mendapatkan kelapangan dari kesusahan dan kesulitan.
- Mencukupi sebagai wirid malam yang lengkap bagi orang yang membacanya secara rutin.
- Memperoleh keberkahan dan pertolongan rohani melalui hubungan Ratib ini dengan Imam al-Haddad.
- Memperoleh perlindungan dan manfaat rohani melalui pembacaan secara istiqamah setiap malam.
- Dianugerahi akhir kehidupan yang baik (husn al-khatimah) bagi orang yang istiqamah membacanya.
Anjuran Pembacaan
Amalan berikut dianjurkan dalam membaca Ratib al-Haddad:
- Untuk amalan rutin: Bacalah sekali pada pagi hari dan sekali pada petang hari. Membacanya sekali pada petang hari saja juga dianggap mencukupi.
- Untuk amalan malam: Bacalah setiap malam sebagai wirid malam yang rutin.
- Untuk perlindungan dari bahaya dan musibah: Bacalah pada masa kesulitan, kesusahan, atau ketika menghadapi ancaman bahaya.
- Untuk terkabulnya hajat yang dibenarkan: Bacalah dengan niat memohon kepada Allah agar hajat tersebut dipenuhi.
- Untuk perlindungan bersama: Pembacaan Ratib secara rutin dianjurkan bagi keluarga, masyarakat, dan tempat-tempat yang memohon perlindungan dari bahaya.
- Untuk istiqamah dan husn al-khatimah: Istiqamahlah dalam membacanya, karena diriwayatkan dari Imam al-Haddad bahwa barang siapa istiqamah membaca Ratib ini akan dianugerahi husn al-khatimah.
Aku menerima ijazah untuk membaca ratib ini semoga aku selalu bersama orang orang yg sabar aamiin
MashaAllah
InshaAllah akan terus membaca ratib al Haddad,
Dan InshaAllah apa yang saya niatkan tercapai Aamiin🥰
Alhamdulillah saya Ahmad Barokah sudah lama mengamalkannya. se,oga terus istiqomah.
Doakan juga semoga saya bisa berangkat ibadah haji.
Saya sudah pernah merasakan manfaat dan berkahnya, namun saya tidak istiqomah.
Saya akan melakukannya lagi, dan berharap bisa istiqomah karena kekuatan dariNya.